jangan hanya puas dengan hasil sedikit tapi puaslah karena usaha anda yang banyak dan berhasil. ingat!!! hasil akhir dari usaha anda itu penting

November 27, 2011

Perbandingan Filsafat dan Sains

Dalam hal ini tidak salah bahwa keduanya memiliki persamaan, dalam hal ini bahwa keduanya merupakan hasil ciptaan kegiatan pikiran manusia, yaitu berfikir filosofi spekulatif dan berfikir empiris ilmiah. Perbedaan antara keduanya, terutama untuk aliran filsafat pendidikan tradisional, adalah bahwa filsafat menetukan tujuan dan science manentukan alat sarana untuk hidup.
Untuk lebih jelas dan untuk lebih mengetahui tentang perbandingan antara filsafat dan sains, maka di bawah ini akan dijelaskan tentang persamaan dan perbedaan antara keduanya, yaitu :
• Persamaan :
a. Keduanya mencari kerumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki objek selengkap-lengkapnya sampai ke akar-akarnya.
b. Keduanya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian-kejadian yang kita alami dan mencoba menunjukan sebab akibatnya.
c. Keduanya hendak memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan.
d. Keduanya mempunyai metode dan system.
e. Keduanya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari hasrat manusia (obyektifitas) akan pengetahuan yang lebih mendasar.

• Perbedaan :
a. obyek material (lapangan) filsafat itu bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan obyek material ilmu (pengetahuan ilmiah) itu bersifat khusus dan empiris. Artinya ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secara kaku dan terkotak-kotak sedangkan kajian filsafat tidak terkokta-kotak dalam disiplin tertentu. Obyek formal (sudut pandang) filsafat itu bersifat fregmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu ada itu secara luas, mendalam dan mendasar, sedangkan ilmu bersifat fragmentaris, spesifik, dan intensif. Di samping itu, obyek formal itu bersifat teknik yang berarti bahwa cara-cara ide manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita.
b. Filsafat dilaksanakan dalam suasana pengetahuan yang menonjol daya spekulasi,kritis,dan pengawasan,sedangkan ilmu haruslah diadakan riset lewat pendekatan tital dan error. oleh karena itu, nilai ilmu terletak pada kegunaan pragmatis,sedangkan kegunaan filsafat timbul dari nilainya.
c. Filsafat menberikan penjelasan yang terakhir,mutlak, dan mendalam sampai mendasar (primary cause) sedangkan ilmu menunjukan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, lebih dekat, yang sekunder (secondary cause).
d. Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dah lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif, yaitu menguraikan secara logis yang dimulai dari tidak tahu menjadi tahu

Sekarang, filsafat sama denagn sains dalam menemukan pengetahuan yang seksama dan terorganisir dengan baik. Tapi filsafat tidak puas dengan definisi semacam ini. Filsafat mencari pengetahuan yang juga ‘konprehensif ‘. Pikiran manusia tidak puas semata-mata dengan menyusun rangkaian yang tetap tentang fenomena dan sekedar merumuskan cara-cara mereka bertingkah-laku. Pikiran manusia sangat membutuhkan beberapa penjelasan akhir berkenaan dengan berkenaan dengan berbagai fenomena dengan perilaku.
Objek filsafat adalah mengambil alih berbagai hasil sains, menambahkan kepada hasil-hasil sains yang diambil alih tersebut dengan berbagia hasil pengalaman etis dan religius umat manusia kemudian mereflesikannya secara keseluruhan. Definisi diatas menyakinkan proyek ambisius filsafat, harapannya adalah untuk mandapatkan pandangan yang ringkas tentang kerja sains khusus dn menemukan beberapa makna menyeluruh yang pada masa lalu telah menggiring para ilmuan atau pemikir kepada kritisme yang tidak menguntungkan filsafat.
Bagi akal manusia, perhatian utama mengenai kedua hal tersebut dan apapun objek lain yang menarik perhatian manusia adalah pokok pembahasan yang mesti masuk akal bagi penyelidikan ilmiah sehingga logis juga dalam menetapkan metode iliah yang di pergunakannya. Sikap kritis hanya dapat tumbuh dari kesalah pengguna metode dalam cara kerja atau dari keputusasaan yang dinyatakan dengan perbuatan.

Sebab-Musabab
Tidak ada suatu kejadian atau peristiwa tanpa adanya sebab (nothing happens without a cause) dan sebab tersebut mencukupi. Saat ini, seluruhnya merupakan produk atau hasil dari masa lalu dan masa depan mungkin terjadi karena hasil dari zaman sekarang. Fenomena apapun menghadirkan dirinya sendiri atas pandangan kita dan kita dengan penuh keyakinan bias menemukan sebuah sebab.
Dari penjelasan diatas, kemudian kita menduga bahwa penyebaban dalam arti umum adalah hanya seperti sebuah perkara tentang kekuasaan atau pelaksanaan (enforcement). Penjelasan ini disebut dengan penjelasan penyebaban animistis atau antropomorfis. Maksudnya penjelasan ini menerangkan berbagai hal dialam semesta dengan bersandar pada perasaan dan pengalaman kita.
1. Sebab pertama
Karena sains memberikan cukup banyak pengertian dalam kepercayaan bahwa semua peristiwa memiliki sebab dan menemukan bahwa asumsi atau pengandaian sepenuhnya dinilai oleh hasilnya, maka para mahasiswa filsafat akan bersikeras menyelidiki tentang sebab pertama (first cause).
2. Sebab final
Kata final (akhir) disini tidak merujuk pada adanya sebab pertama atau sebab sebelumnya (yang baru lalu) tetapi mengacu kepada maksud atau tujuan pada suatu tindakan yang dalam bahasa latin disebut finis.
Sains tidak berhubungan dengan sebab final tetapi bagaimanapun juga mahasiswa berfikir dan ingin tahu apakah benda-benda yang berada dialam dalam beberapa cara tidak ditentukan oleh tujuan yang hendak dicapai.

Hubungan Filsafat dan Sains

History
Pada awalnya filsafat sains lebih berupa metodologi atau telaah tentang tata kerja atau metode dalam berbagai sains serta pertanggungjawabanya secara rasional. Dalam logika sains biasa dibedakan ada yang disebut dengan konteks penemuan sains(context of scientific justification).
Tradisi sains, sebenarnya telah dimulai sejak filsafat itu lahir, yaitu sejak atau sekitar abad ke 6 SM. Thales, yang disebut-sebut sebagai bapak filsafat telah memutarkan dengan mencari tahu tentang bahan dasar alam semesta ia menyimpulkan bahwa bahan dasar alam semesta itu adalah air. Jawaban ini tidak memuaskan murid dan pemikir setelahnya. Anaximenes misalnya mengatakan bahwa bahan dasar yang membangun alam semesta itu adalah udara. Anaximandros mengatakan suatu prinsip yang tidak terbatas(to Apeiron). Penyelidikan para pendahulu filsafat ini lebih bersifat kosmologi-ontologis, belum epistemologis, artinya belum begitu serius. Baru setelah Aristoteles (1384-322 SM) membahas epistemologis mulai dipertanyakan.Arisoteles mengemukakan acuan untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, yaitu dengan menggunakan pengamat induktif dan metode deduktif.
Dari kedua metode yang nampak bertolak belakang itu, Aristoteles mengusulkan bahwa untuk mencapai pengetahuan yang solid, kedua metode tersebut mesti sama-sama digunakan, artinya apa yang kita pikirkan itu harus bias dibuktikan atau berhubungan dengan realitas dan kenyataan konkret.
Zaman semakin maju, revolusi terjadi dalam berbagai bidang, maka arah kajian filsafat sains berkembang ke zaman yang lebih baru dan lebih positive. Agar nampak tidak terlalu naïf, tampilah para tokoh filsafat sains yang menberikan landasan filsafat bahasa pada positivme hingga tampil menjadi logis gerakan ini muncul setelah didirikan kelompok kajian filsafat sains yang disebut dengan, lingkaran wina.aliranya disebut positivisme logis. Pada awal abad ke 20 inilah filsafat sains mencapai puncaknya.

Hubungan Filsafat dan Sains
Pada akhirnya kita memang melihat adanya sebuah hubungan antara filsafat dengan sains. Mereka memiliki spirit dan tujuan yang sama yaitu jujur dan mencari kebenaran. Dalam pencarian kebenaran ini sais menentuka dalam dirinya sendiri tugas khas tertentu dan tugas ini memerlukan batas-batas tertentu. Tetapi penyelidikan ean pikiran manusia yang selalu inig tahu, melukai batas-batas ini dan menuntut perembesan terhedap wilayah yang berada di balik bidang sains, dengan demikian lalu filsafat muncul.
Henderso berpendapat tentang hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan atau sains, seprti di bawah ini:

A.SCIENCE
1. Originally, the child of philosophy
2. Analitic, examines all phenomena minutely
3. Concerned with facts, with describing thing as they are
4. Begins with assumptions
B. PHILOSOPHY
1. Mother of knowledge
2. Synoptic, views the world and even the universe
3. Concerned not only with things as they are but also with the way they ought to be human desires and human values
4. Examines and questions all assumptions
5. Uses all pertinent findings sciences
Apabila permasalahan diatas merupakan perumusan permasalahan yang tepat dan benar dan baik, maka mana yang lebih penting, induknya atau kan anaknya, yang dulu lebih penting dari yang kemudian, sebab lebih penting dari akibatnya, beberapa pertanyaan permasalahan yang tidak mudah di jawab, atau pertayaan yang dijawabnya masih sangat terbuka sekali, maka kita menjelaskan bahwa sesungguhnya kedudukan filsafat sains dalam sistematika filsafat lebih dekat kepada tema besar filsafat yang kedua yaitu epistemology. Bahka keduanya saling terkait dan tidak dapat dipisahkan begitu saja. Hanyan saja untuk memudahkan pengindetifiksian, kajian epistemologi lebih dimaknai dan ditujukan sebagai pengkajian teoritis tentang pengetahuan sebelum pengetahuan itu sendiri berkembang sebagai sains pada abad ke-17 atau setidaknya kajian tersebut barada diluar sains, berdasarkan peredaan metode objek yang dikaji tentunya.

May 21, 2011

Tiga Prinsip seorang Teosof

Akal, Kesadaran dan Pemikiran adalah tiga prinsip yang memungkinkan kita untuk mengakui dan merespon eksistensi.
Tiga prinsip tadi adalah pondasi sebuah bangunan dan dengan tiga komponen ini semua misteri psikologi terkuak.
Akal, Kesadaran dan pemikiran adalah bakat spiritual yang memungkinkan kita untuk melihat dunia dan membimbing kita dalam mengarungi kehidupan.
Ketiganya adalah kesatuan konstan yang universal yang tidak pernah berubahdan tidak terpisahkan.
Semua filsafat terlahir dengan tiga bakat ini dan filsafat merupakan akibat langsung dari pemakaian benar salah terhadap prinsip-prinsip yang sama tersebut.
Semua fungsi psikologis terlahir dari tiga prinsip ini.

March 8, 2011

Filsafat Ikhwan As Shofa

Filsafat ikhwan al Shofa
Ikhwan al Shofa yang berarti persaudaraan suci adalah kelompok pemikir islam yang bergerak secara rahasia di sekte Syi’ah Ismailiyah yang lahir abad ke 4 Hijrah di Basroh. Namun gerakan rahasia ini ditentang oleh penguasa setempat pada waktu itu (Dinasti Abasiyah) yang dikuasai Dinasti Salajikah) yang menganut paham Sunni. Akhir dari perbedaan ideologi ini berujung dengan dibakarnya karya filsafat ikhwan al Shofa . Tokoh filsafat ikhwanal Shofa diantaranya Ahmad Ibnu Abdillah, Abu Sulaiman Muhammad Ibnu Nashr Al Busti (Al Muqoddasi), Zaid ibnu Rifa’ah (Ketua) dan Abu Hasan Al Zanjani.
Ada 4 tingkatan dalam kelompok ini, yaitu:
1. Ikhwan Al Abrar Al Ruhana, yaitu kelompok yang berusia 15-30 tahun, memiliki jiwa yang suci dan kuat.
2. Ikhwan Al Akhyar wa Al Fudhola, yaitu kelompok yang berusia 30-40 tahun, sudah mampu memelihara persaudaraan, pemurah, kasih sayang dan siap berkorban demi persaudaraan.
3. Ikhwan Al Fudhola Al Kiram, yaitu kelompok yang berusia 50-50 tahun, sudah mengetahui aturan ketuhanan sebagai tingkatan para nabi dan kedudukan dalam pemerintahan sama seperti sultan atau Qodhi(hakim).
4. Al Kamal, usia 50 tahun ke atas disebut tingkatan al muqorrobin minallah (mampu memahami hakikat sesuatu sehingga mereka sudah berada di atas alam realitas, syari’at dan wahyu.
Karya-karya
1. Bidang matematika ada 14 risalah (geometri, astronomi, musik, geografi, seni, modal & logika)
2. Bidang fisika dan ilmu alam ada 17 risalah (genealogi, mineralogi, botani, hidup dan matinya alam, senang sakitnya alam, keterbatasan masnusia dan kemampuan kesadaran).
3. Tentang ilmu jiwa ada 10 risalah (metafisika, phytagoreanisme, kebangkitan alam).
4. Tentang ilmu ketuhanan ada 11 risalah (kepercayaan, keyakinan, hubungan alam dengan Allah, akidah mereka, kenabian dan keadaanya, tindakan rohani, bentuk konstitusi politik, kekuasaan Allah, magic, dan Ajimat).
Filsafat
1. Talfiq
Mereka berusaha memadukan filsafat Yunani dengan Syari’at arab dan menempatkan filsafat sebagai landasan agama yang dipadukan dengan ilmu. Dalam pemaduan mereka ini, mereka berusaha melepaskan sekat-sekat perbedaan agama termasuk seluruh agama yang ada. Yang mereka maksud adalah islam sebagai ajaran uatama dan ajaran lainya hanya sekedar pelengkap untuk memudahkan memahami islam itu sendiri.
2. Ketuhanan
Dalam hal ini mereka melandasi pemikirannya pada angka-angka. Angka satu paling berpengaruh dengan istilah lain angka satu adalah angka yang pertama. Oleh karena itu keutamaan terletak pada yang terdahulu. Oleh karena itu terbuktilah bahwa Ynag Maha Esa (Allah) lebih dahulu dari yang lainnya seperti dahulunya angka satu dari angka lain.
3. Bilangan
Angka mempunyai arti spekulatif yang penting, yang dapat dijadikan dalil wujud sesuatu. Oleh karena ilmu hitung merupakan ilmu yang paling mulia dibandingkan ilmu empirik, karena tergolong ilmu ketuhanan. Angka satu merupakan dasar wujud dan permulaan yang absolute.
4. Jiwa manusia
Jiwa manusia bersal dari jiwa yang universal. Jiwa manusia banyak dipengaruhi materi yang mengitarinya. Agar jiwa tidak kecewa dalam perkembanganya, maka jiwa dibantu oleh akal yang merupakan daya bagi jiwa yang berkembang.

March 3, 2011

Filsafat Ar Razi

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filsafat itu menyelidiki, membahas, serta memikirkan seluruh alam kenyataan dan menyelidiki bagaimana hubungan kenyataan satu dengan yang lain, jadi ia memandang satu kesatuan yang belum dipecah-pecah serta pembahasannya secara keseluruhan, sedangkan ilmu lain itu hanya menyelidiki sebagian saja dari alam maujud ini.
Ketika mempelajari filsaat islam kita juga akan mempelajari tokoh filosof muslim beserta pemikirannya.
Dan makalah ini kita akan membahas salah satu dari filosof muslim yakni Ar-Razi beserta karya-karyanya dan cara berfilsafatnya.

PEMBAHASAN
A. Biografi Ar-Razi
Nama lain Ar-Razi adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Zakaria Ibn Yahya Ar-Razi. Beliau lahir di Rayy pada tanggal 1 Sya’ban 251 H/805 M. pada masa mudanya beliau menjadi tukang intan dan suka pada musik(kecapai). Beliau cukup reflek terhadap ilmu kimia, dan beliau juga belajar ilmu kedokteran(obat-obatan) dengan sangat tekun kepada seoarang dokter dan filosof. Dengan latar belakang itulah Ar-Razi di kota kelahirannya dikenal sebagai seorang dokter, sehingga beliau dipercaya untuk memimpin rumah sakit di Rayy oleh Mansur bin Ishaq Ibn Ahmad Ibn Asad ketika Mansur menjadi Gubernur. Dan beliau juga menulis buku yang dipersembahkan untuk Gubernur tersebut.
Sebagai seorang yang terkenal, pada dasarnya beliau mempunyai banyak murid belajar kepadanya. Metode penyampaian materinya adalah sistem daya pengembangan intelektual. Diantara muridnya yang cerdaslah Abu Bakar Ibn Qorin Ar-Razi, yang kemudian menjadi seorang dokter. Beliau selalu menggunakan waktunya untuk menulis dan belajar. Kemungkinan hal itu sebagai salah satu indikasi kebutaan matanya.
Sebagai ilmuwan dan dokter beliau seorang yang bermurah hati, sayang terhadap pasien-pasiennya, dermawan, karena itu beliau memberikan obat secar gratis kepada mereka yang tidak mampu( materi). Beliau wafat pada tanggal 5 Sya’ban 313 H/ 7 Oktober 925 M. sampai meninggal beliau belum dapat disembuhkan kebutaan matanya.
B. Karya-karya Ar-Razi
Ar-Razi termasuk orang yang aktif berkarya. Buku-bukunya sangat banyak, bahkan beliau sendiri mempersiapkan sebuah katalog yang kemudian diprediksi oleh Ibn An-Nadhim.
Adapun buku-buku yang ditulisnya mencakup ilmu kedokteran, ilmu fisika, logika, matematika, dan astronomi. Komentar-komentar, ringkasan, ikhtisar, filsafat, dan ilmu pengetahuan hipotesis dan atheisme. Untubk jumlah karya-karyanya yang dikarang banyak perbedaan pendapat ada yang mengatakan 250 judul, 148 buah, dan ada yang mengatakan 309 judul, adapun buku-buku itu diantaranya adalah:
a. At-Thibb al-ruhani
b. Al-Shirath al-dawlah
c. Amarah al-Iqbal al-Dawlah
d. Kitab al-Ladzdzah
e. Kitab al-‘Ilm al-Ilahi
f. Maqalah fi ma ba’d al-Thabi’iyyah; dan
g. Al-Shukuk ‘ala Proclus
Demikian diantara karya-karyanya yang dapat kita jumpai sampai sekarang, meski diantara buku-buku tersebut hanya terhimbun dalam satu kitab yang dikarang oleh orang lain. Yang banyak berperan dalam masalah ini adalah:
• Lima keabadian yaitu Allah, roh semesta, materi pertama, ruang muthlak, dan waktu muthlak.
• Materi
• Waktu dan ruang
• Ruh dan dunia
C. Filsafatnya Ar-Razi
 Logika
Ar-Razi adalah seorang rasionalisme murni, dan beliau hanya mempercayai khekuatan akal. Bahkan didalam bidang kedokteran study klinis yang dilakukannya setelah menemukan metode yang kuat dengan berpijak kepada observasi dan eksperimen.
Bahkan pemujaan Ar-Razi terhadap akal tampak sangat jelas pada halaman pertama pada bukunya At-Thibb. Beliau mengatakan, Allah segala puji baginya, yang telah memberikan akal agar dengan-Nya kita dapat memperoleh sebnyak-banyaknya manfaat. Inilah karunia terbaik Allah kepada kita. Akal adalah suatu yang mulia dan penting karena dengan akal kita dapat memperoleh pengetahuan tewntang tuhan. Maka tidak boleh melecehkannya.
 Moral
Adapun pemikiran Ar-Razi tentang moral sebagaimana tertuang dalam buku At-Thibb al-ruhani dan Al-Sirah al-Falsafiyyah, bahwa tingkah laku itu berdasarkan dari akal. Hawa nafsu harus berada dibawah kendali akal dan agama. Beliau memperingatkan bahaya minuman khomr yang dapat merusakkan akal dan melanggar agama.
Berkaitan dengan jiwa, Ar-Razi menjadikan jiwa sebagai salah satu alasan pengobatan baginya. Menurutnya antara tubuh dan jiwa terhadap suatu hubungan yang sangat erat, misalnya: emosi jiwa tidak akan terjadi kecuali dengan melalui pengamatan indrawi.
Sedangkan kebahagiaan menurut Ar-Razi adalah kembalinya apa yang telah tersingkir karena sesuatu yang berbahaya, misalnya: orang yang meninggalkan tempat yang teduh menuju tempat yang disinari matahari. Ia akan senang ketika kembali ke tempat yang teduh tadi.
 Kenabian/ Theologi
Ar-Razi menyangkah bahwa anggapan bentuk kehidupan manusia memerlukan nabi sebagaimana yang dikatakannya dalam bukunya Naqd al-Adyan au fi al-Nubuwah. Beliau mengatakan bahwa beliau tidak percaya kepada wahyu dan adanya nabi. Menurutnya para nabi tidak berhak mengklaim dirinya sebagai orang yang memiliki keistimewaan khusus. Karena semua orang adalah sama dan keadilan tuhan secara hikmahnya mengharuskan tidak membedakan antara seoranng dengan yang lainnya.
Ar-Razi juga mengritik kitab suci baik injil maupun al-quran. Beliau menolak mukjizat al-quran baik segi isi maupun gaya bahasanya. Menurutnya orang mungkin saja dapat menulis kitab yang lebih baik dengan gaya, bahasa yang lebih indah. Kendatipun demikian, Ar-Razi tidak berati seorang atheis, karena beliau masih menyakini adanya Allah.
 Metafisika
Filsafat Ar-Razi dikenal dengan ajaran “Lima kekal” yaitu:
 Allah Ta’ala
 Ruh Universal
 Materi pertama
 Ruang absolute
 Masa absolute
Berikut ini uraian singkat mengenai “Lima kekal” yaitu:
1. Allah Ta’ala
Allah bersifat sempurna. Tidak ada kebijakan setelah tidak sengaja, karena itu ketidak sengajaan tidak bersifat kepada-Nya.
Kehidupan berasal dari-Nya sebagaimana sinar datang dari matahari Allah mempunyai kepandaian yang sempurna dan murni. Kehidupan ini adalah mengalir dari ruh. Allah menciptakan sesuatu dan tidak ada yang bisa yang menandingi dan tidak ada yang bisa menolak kepada-Nya. Allah Maha Mengetahui, segala sesuatu. Tetapi ruh-ruh hanya mengetahui apa yang berasal dari eksperimen. Tuhan mengetahui bahwa ruh cenderung pada materi dan membutuhkan kesenangan materi.
2. Ruh
Allah tidak menciptakan dunia lewat desakan apapun tetapi Allah memutuskan penciptaan-Nya setelah pada mulanya tidak berkehendak tidak menciptakannya, Allah menciptakan manusia guna menyadarkan ruh dan menunnjukkan kepadanya, bahwa dunia ini bukanlah dunia yang sebenarnya dalam arti haqiqi.
Manusia tidak akan mencapai dunia haqiqi ini, kecuali dengan filsafat, mereka mempelajari filsafat, mengetahui dunia haqiqi, memperoleh pengetahuan akan selamat dari keadaan buruknya. Ruh-ruh tetap berada dalam dunia ini sampai mereka disadarkan oleh filsafat akan rahasia dirinya.
Melalui filsafat manusia dapat memperoleh dunia yang sebenarnya, dunia sejati atau dunia haqiqi.
3. Materi
Menurut Ar-Razi kemutlakan, materi pertama terdiri dari atom-atom, setiap atom mempunyai volum yang dapat dibentuk. Dan apabila dunia ini dihancurkan, maka ia akan terpisah-pisah dalam bentuk atom-atom. Dengan demikian materi berasal dari kekekalan, karena tidak mungkin menyatakan suatu yang berasal dari ketiadaan sesuatu.
Untuk memperkuat pendapat ini Ar-Razi memberikan 2 bukti yaitu:
 Penciptaan adalah bukti dengan adanya sang pencipta.
 Berlandaskan ketidak mungkinan penciptaan dan ketiadaan.
4. Ruang
Menurut Ar-Razi ruang adalah tempat keadaan materi, beliau mengatakan bahwa materi adalah kekal dan karena materi itu mempunyai ruang yang kekal.
Bagi Ar-Razi ruang terbagi menjadi 2 yakni waktu universal (mutlak) dan waktu tertentu (relatif ), ruang universal adalah tidak terbatas dan tidak tergantung kepada dunia dan segala sesuatu yang ada didalamnya. Sedangkan ruang yang relatif adalah sebaliknya.
5. Waktu
Adalah subtasi yang mengalir, ia adalah kekal. Ar-Razi membagi waktu 2 macam yakni waktu mutlak dan waktu relatif (terbatas). Waktu mutlak adalah keberlangsungan, ia kekal dan bergerak. Sedang gerak relatif adalah gerak lingkungan-lingkungan, matahari dan bintang gemintang.

A. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan:
1. Nama lain Ar-Razi adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Zakaria Ibn Yahya Ar-Razi. Beliau lahir di Rayy pada tanggal 1 Sya’ban 251 H/805 M.
2. Diantara karya-karya Ar-Razi adalah:
• At-Thibb al- Ruhani
• Al-Shirath al-Dawlah
• Amarah al-Iqbal al-Dawlah
• Kitab al-Ladzdzah
• Kitab al-‘Ilm al-Ilahi
• Maqalah fi ma ba’d al-Thabi’iyyah, dan
• Al-Shukuk ‘ala Proclus
3. Filsafat Ar-Razi adalah:
Logika
Moral
Kenabian/ Theologi
Metafisika
B. Saran-saran
Fillsafat merupakan hasil kerja berfikir dalam mencari hakikat segala sesuatu secara sistematik, radikal dan universal, berfilsafat dapat menambah keimanan kita, oleh sebab itu saran penulis agar pembaca dapat memahami makalah ini dengan baik dan benar. Kami menyadari bahwa tiada sesuatu di dunia ini yang sempurna karenanya rangkain saran dan kritik dari pembaca merupakan wujud partisipasi atas keikut sertaan anda dalam mewujudkan hal ini.
DAFTAR PUSTAKA
Nasution, Hasyimsyah.2005. Filsafat Islam . Jakarta : Radar Jaya.

Baca Yang ini

Musik Mp3

Filsafat

Bimbingan Konseling

Ilmu Alam

Artikel